Sabtu, 24 September 2011

Suka atau Duka

Apa yang membuat Anda bahagia saat ini? Apakah itu sesuatu yang Anda sukai? Apakah hal itu benar-benar membuat Anda bahagai? Benarkah? Yakin?

Mungkin kita selalu berpikir bahwa kebahagiaan itu muncul ketika kita mendapatkan apa yang kita sukai. Dan juga ketika harapan kita terwujud. Tapi, bagaimana jika yang terjadi justru kebalikannya? Mungkin kita akan kecewa dibuatnya. Memang tak mudah bagi kita untuk bahagia ketika kita tak mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun, pernahkah Anda berpikir bahwa mustahil bagi kita untuk mendapatkan semua yang kita inginkan di dunia ini? Karena belum tentu apa yang kita inginkan itu sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dan kita tidak akan bisa mengingkarinya.

Tapi, bukankah kita bisa mengubah sikap dan pandangan kita dalam menyikapi hal itu? Kita hidup di dunia ini atas kehendak-Nya. Kita selalu dalam pengawasan-Nya. Tanpa rahmat dan nikmat dari-Nya kita tak akan bisa terus hidup. Namun, kita tidak boleh berputus asa jika kita tak mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan kita padahal kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh. Karena Dia tak akan diam ketika melihat kita berusaha. Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita. Apa pun itu. Dia lah yang Maha Mengetahui. Dengan mengubah pandangan dan sikap kita dalam menyikapinya, kita akan bahagia.

Hidup akan terasa indah jika kita menerima dengan ikhlas apa pun yang terjadi. Meskipun itu pahit. Dan ditambah dengan selalu bersyukur kepada-Nya akan menambah dan melengkapi kebahagiaan itu. Jadi, kebahagiaan itu bukan saja sesuatu yang kita sukai. Tapi, juga sesuatu yang tidak kita harapkan. Itulah duka.
Suka atau duka akan terasa indah jika kita selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.

Rabu, 21 September 2011

Andai Aku Mengetahuinya

Penasaran. Itulah yang ku rasakan saat ini. Ntah kenapa rasa itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Mungkin karena aku terlalu memikirkan hal itu. Bagiku hal itu sangat penting. Tanpanya hidupku terasa hampa. Sudah lama aku ingin tahu kepastian hal itu. Setiap kali aku memikirkan hal itu, aku hanya bisa menebak. Karenanya aku dibuat berandai-andai. Terus berharap. Terus bermimpi. Hingga aku tak bisa membedakan khayalanku dengan kenyataan yang terjadi. Aku jadi penasaran. Hah, andai aku mengetahui kepastian hal itu. Dan aku tak perlu memikirkannya setiap saat. Ya, mungkin di sanalah letak tantangannya.

Keadaan itu semakin parah, dikarenakan aku belum punya kesibukan yang brarti. Aku jadi kepikiran terus. Sampai kapan aku terus-terusan mencari kepastian itu? Ingin rasanya aku menjadi seorang detektif. Memata-matai dan menelusuri jejak kehidupannya. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkannya saat ini. Juga apa yang dirasakannya saat ini. Aku ingin sekali mengetahuinya. Ah, rasanya aku terlalu berlebihan.

Padahal aku tinggal tanya saja kepada dia tentang hal itu, dan semua rasa penasaran itu akan terobati. Tapi, aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk padaku. Aku takut kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupku. Aku tak ingin menambah rasa sakit yang berkepanjangan. Lebih baik rasa penasaran ini ku pendam sendiri. Semoga seiring berjalannya waktu, hal itu akan terungkap.

Minggu, 18 September 2011

Ketika Aku Gagal

Gagal. Kata itu membuat ku jadi gamang dalam bertindak. Aku jadi ragu-ragu ketika melakukan sesuatu. Kata itu membuat aku takut. Rasanya aku kehilangan keyakinan pada diriku. Itu berawal ketika aku gagal pada tes itu. Aku jadi suka menyalahkan diri sendiri. Padahal itu tak ada gunanya. Ingin rasanya mengulang kembali waktu itu. Kan ku perbaiki semua kesalahan ku. Yah, sudahlah. Hal itu tak mungkin terjadi. Yang mesti ku lakukan sekarang adalah bangkit dari keterpurukan. Karena daripada mengutuk kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan.

Namun, hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh semangat yang luar biasa dan perjuangan yang tiada akhirnya. Lagi pula aku masih berduka. Meratapi nasibku yang kelam. Aku jadi ingin lari dari kenyataan. Lepas dari semua beban. Aku ingin bebas! Tapi, penyesalan tak akan mengubah segalanya. Tanpa usaha untuk kembali bangkit, itu sia-sia saja.

Perlahan-lahan ku kumpulkan kembali kepingan-kepingan semangatku. Aku tak ingin terus-terusan seperti ini. Aku harus bangkit! Pasti ada jalan yang lebih baik setelah ini. Dan akan ku temukan jalan itu! Aku bisa!

Aku berusaha menghibur diriku agar bisa melanjutkan sisa hidupku. Aku tak mau berakhir hanya karena penderitaan ini. Aku masih ingin berkarya. Masih banyak yang belum ku pelajari. Aku masih punya hak untuk hidup. Aku ingin membahagiakan mereka yang telah berjasa kepadaku. Aku harus bangkit!

Pada saat itu aku mulai merubah pola pikirku yang tak karuan itu. Aku lebih suka mendengarkan petuah-petuah yang menenangkan jiwa. Apalagi ketika orang-orang memberiku motivasi. Aku jadi terinspirasi kembali. Hal itu membantuku dalam membuat langkah-langkah ke depannya.

Makin lama keadaan ku semakin membaik. Aku sudah bisa mengambil pelajaran dari kegagalanku. Aku jadi sedikit lebih kuat. Aku jadi paham apa itu arti perjuangan yang sebenarnya. Kita akan mendapatkan hasil sesuai dari apa yang kita usahakan. Bak pepatah, "Siapa yang menanam, akan menuai."

Aku jadi salut pada mereka yang berjuang dari bawah hingga akhirnya mereka sukses. Juga kepada mereka yang tak mudah berputus asa. Kepada mereka yang berpengharapan besar pada dirinya dan menghargai setiap usahanya. Mereka yang selalu optimis. Dan mereka yang mensyukuri bagaimana pun keadaan mereka ketika itu. Aku ingin seperti mereka. Aku akan mencobanya dari hal-hal kecil dulu. Semoga suatu saat aku akan menemukan hal yang besar. Yang membuatku tangguh menghadang gejolak kehdupan.

Namun, tujuan utamaku bukanlah sukses di mata orang banyak. Karena aku... hanya ingin menjadi seseorang yang lebih bernilai bagi mereka.

Kamis, 01 September 2011

Tepuk Sebelah Tangan Tidak Akan Berbunyi part II

Sampai saat ini, aku masih ingat awal perkenalan ku dengan orang yang tak ku duga itu. Terasa aneh. Namun, aku tak menyadari bahwa ada bahaya yang tersembunyi di balik perkenalan itu. 

Ketika itu aku masih trauma dengan kejadian masa laluku. Dan aku tak mau mengulanginya lagi. Ku biarkan masalah itu berlalu. Aku memilih untuk menutup diri. Menghindari perkenalan dengan orang asing, terutama COWOK. Aku jadi waspada. Saat itu aku berprinsip bahwa jangan mudah memberikan informasi yang bersifat pribadi pada orang lain.

Mulanya, aku ragu dengan perkenalan itu. Baiknya ku tanggapi saja atau ku abaikan saja? Soalnya aku mengenal orang itu. Dia senior bagiku. Ya, meskipun aku belum pernah berkenalan dan berbicara langsung dengannya. Akhirnya ku putuskan untuk menanggapinya. Hitung-hitung nambah pertemanan. Dan di sini lah dimulainya masalah itu.

Dari perkenalan itu aku mengetahui sedikit banyak tentangnya. Ternyata dia orang yang baik. Aku pun mulai nyaman dengan setiap pembicaraan kami. Mungkin itu juga karena aku tak bertatapan muka langsung dengannya. Dan kini, aku tak canggung lagi dengannya. Dia serasa abangku sendiri.

Kami pun semakin akrab. Hingga aku menemukan sesuatu yang istimewa darinya. Dan lagi-lagi aku mendapati diriku sedang terkagum-kagum padanya. Aih, aku begitu lagi. Padahal aku kan sudah menjadi pengagum rahasia "dia" pada kisah sebelumnya. Ada apa lagi ini?

Semakin hari rasa kagumku semakin bertambah. Aku semakin termotivasi karenanya. Aku ingin sukses seperti dia. Tapi, entah kenapa aku malah jd susah untuk fokus belajarnya. Loadingnya jadi kelamaan. Baca soal pun mesti diulang-ulang. Apa aku terlalu memikirkan banyak hal? Hmm.. Rasanya tidak juga. Atau kah karena aku justru hanya memikirkan satu hal saja?

Keadaan itu menjadi parah ketika terjadi sebuah kesalahpahaman. Ya, karena hal sepele lah. Dicuekin. Tiba-tiba saja semangatku hilang. Ngapa-ngapain jadi susah. Aku jadi sedih. Aku lebih suka murung karenanya. Hah, rasanya aku ingin protes. Aku tak terima. Kenapa hanya aku yang jadi begini. Aku ingin seperti dulu. Tetap semangat dan banyak senyum. Aku gak suka keadaan ku ini. Mungkinkah ini yang dinamakan tepuk sebelah tangan tidak akan berbunyi?

Aku pun mulai lelah karenanya. Lama-kelamaan aku jd jenuh dengan keadaan ini. Dan aku mulai berpikir, kenapa aku membuang-buang waktuku hanya karena hal sepele ini? Aku kan juga punya mimpi-mimpi dan ambisi. Bejibun malah. Kenapa mesti mikir yang nggak-nggak. Lebih baik aku selalu berpikir positif  dan tetap berprasangka baik padanya. Toh dia juga punya kehidupan sendiri. Lagian aku bukan siapa-siapa baginya. Peranku kan hanya sebagai tokoh figuran. Tak begitu penting lah.

Aku mendapatkan pelajaran penting dalam hal ini. Jangan mudah terbawa suasana, tetap fokus pada tujuan, dan selalu berprasangka baik. Aku bersyukur bisa mengenalnya. Aku jadi bisa belajar banyak hal. Aku ingin sukses seperti dia. Dan tekadnya yang kuat itu dengan filosofinya "Harus bisa!", membuatku semakin terkagum-kagum padanya. Aku juga tak harus melupakan dia. Aku akan menyimpannya baik-baik dalam album kenangan terbaikku... hanya di hatiku...


semoga kelak rasa ini tersampaikan.

Tepuk Sebelah Tangan Tidak Akan Berbunyi part I

Labil. Satu kata yang fenomenal bagiku. Setiap kali aku mendengar kata itu, aku jadi teringat pada seseorang. Dia lah yang membuatku banyak belajar dari kata itu. Namun, dia bukanlah orang yang ku ceritakan pada kisah sebelumnya. Dia juga membuat ku merasakan sensasi dari kata itu. Yah, bagiku itu hal yang wajar, selama aku masih berada dalam tahap pencarian jati diri. Kalau sudah melewati tahap itu, aku mesti kerja keras melawan 'labil' itu. karena bukan masanya lagi untuk ku labil. Aku harus memikirkan masa depanku. Mungkin saat itu, tak ada lagi waktu untuk ku bersantai-santai. Aku harus serius.

Tapi, bagiku tahap pencarian inilah yang paling sulit. Sebab untuk menakhlukkan 'labil' itu sendiri perlu jiwa yang kuat dan juga pribadi yang handal dalam menyelesaikan masalah. Namun, yang tak kalah penting adalah rasa optimisme yang tinggi. Karena dengan selalu optimis lah kita akan terus mencoba dan berusaha meskipun telah berulang kali mengalami kegagalan. Tapi, semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Dan sekarang kita kembali lagi ke pokok masalahnya. Dan berawal dari sebuah perkenalan lagi, aku mendapatkan masalah baru lagi. Padahal masalah yang waktu itu saja belum kelar. Hah, mungkin labilku parah sekali hingga menganggap semua itu sebagai masalah. Bukankah suatu hal yang lumrah bagi setiap orang untuk bisa mengenal sesamanya?

Masalah itu bermula ketika aku telah terbiasa dengan masalah yang ku alami pada kisah sebelumnya. Aku sudah bisa menyesuaikan perasaanku. Aku pun mulai stabil. Tapi, tak ku sangka aku diuji lagi lagi dengan masalah yang sama seperti waktu itu. Namun, dengan orang yang berbeda. Mungkin aku disuruh belajar dari pengalamanku sebelumnya. Tapi, ntah kenapa aku terjebak lagi di lubang yang sama. Oh, Tuhan...